Tampilkan postingan dengan label catatan diskusi. Tampilkan semua postingan
Farhan Assidiq Dalam pembelajaran sejarah , sering kita dapati pembelajaran mengenai sejarah dilakukan secara formal dikelas. ...
Kausalitas dan Kesadaran Bertindak
Farhan Assidiq
Dalam pembelajaran sejarah, sering kita dapati pembelajaran mengenai sejarah dilakukan secara formal dikelas. Hal tersebut dibuat seakan-akan sejarawan merupakan suatu profesi semata tanpa melihat eksistensi sejarawan itu seperti apa.Sejarah bukanlah sains, hal itu yang coba dijelaskan oleh Paul Veyne bahwa eksistensi seorang sejarawan bukan hanya bertujuan untuk mengejar profesi semata, melainkan seorang sejarawan harusnya benar-benar mampu menempatkan dirinya di antara celah masa lalu dan masa kini. Untuk mencapai hal tersebut, sejarawan semestinya mampu memahami bagaimana peristiwa sejarah dibentuk dan melihat keunikan yang dimiliki oleh plot sejarah. Sejarah merupakan jalan untuk menjelaskan sejelas-jelasnya bagaimana suatu peristiwa dapat terjadi. Penggabungan peristiwa sejarahmerupakan hasil dari mengorganisir data-data. Dalam mengorganisir data-data, terkadang sejarawan sering membuat kesalahan. Paul Veyne menyebut salah satu kesalahan yang kadang tidak disadari oleh sejarawan adalah melakukan tindakan yangkadang hanya didasari teori yang belum memiliki kejelasan dan masih berupa kemungkinan, Veyne menyebutnya sebagai Retrodiction.
Masalah utama dari Retrodiction ada pada masalah asumsi sendiri yang dapat terjadi oleh sebab. Untuk memahami hal tersebut, Paul Veyne memberi proposisi sederhana dari peristiwa “Louis XIV menjadi tidak disukai karena kebijakan pajak yang tinggi”. Hal ini dapat ditulis dengan dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, maksud dari pernyataan tersebut diketahui sejarawan melalui dokumen-dokumen bahwa kebijakan pajak yang tinggi merupakan penyebab Raja Louis tidak disukai, jadi sejarawan berbicara dan mendengar hal tersebut dengan telinganya sendiri melalui dokumen-dokumen yang telah ia temukan. Kedua, sejarawan hanya mengetahui bahwa pajak yang tinggi dan hal itulah membuat raja menjadi tidak disukai sampai akhir pemerintahannya. Dalam kasus pertama dapat dilihat bahwa ada keterhubungan antar plot-plot yang dibaca melalui dokumen-dokumen yang menjelaskan bahwa sistem pajak membuat raja tidak disukai. Sedangkan dalam kasus yang kedua dapat dilihat bahwa sejarawan membuat Retrodiction, ia hanya membuat alasan tidak disukainya raja atas dasar kemungkinan sebagai sebab untuk menjelaskan hipotesis tanpa melihat secara menyeluruh jejak-jejak peninggalan sejarah.
Kausalitas merupakan sesuatu yang alami dan tidak teratur,masa depan selalu dapat berubah.Apa yang akan terjadi esok tidak akan pernah diketahui sebelum hal itu terjadi. Kausalitas selalu bersama dengan mental sejarawan. Peristiwa terdiri dari berbagai plot yang semuanya persis tapi tidak selalu sama. Peristiwa memiliki sebab, tetapi sebab tersebut tidak selalu memiliki resiko dalam jangka pendek, dan kesempatan terjadinya peristiwa juga tidak selalu sama. Kausalitas dibuat berdasarkan hubungan kausal terhadap sesuatu. Retodiction, merupakan suatu jalan relasi untuk menjelaskan suatu alasan dengan analogi atau dalam bentuk prediksi apa yang akan terjadi dimasa depan. Pondasi dari Retrodiction dapat dilihat bahwa ia bukan merupakan generalisasi yang konstan, efeknya selalu mengikuti sebab atau bukan dari pondasi dalam keadaan khusus, melainkan fenomena alami yang berurutan. Hal itu merupakan sesuatu yang empiris, sesuatu berasal dari pengalaman pribadi, artinya retodiction sangat personal, dan sangat berhubungan dengan lingkungan sekitar dimana seseorang itu hidup.
Sejarah memberikan periodisasi dalam rekonstruksinya berdasarkan klasifikasi yang didapat di antara dokumen-dokumen dan Retrodiction. Apa yang kita sebut “fakta” sejarah sejauh diketahui sangat konsisten (tetap dan pasti), pada kenyataannya fakta selalu jelas mengambil ukuran dari apa yang disebut Retrodiction. Untuk memahami kausalitas dan Retrodiction, sejarawan sebaiknya mempunyai pengalaman langsung dalam menganalisis suatu peristiwa sejarah. Pengalaman sejarah adalah pengetahuan yang paling umum dari semua yang dilakukan oleh sejarawan dalam sejarahnya. Hal tersebut menyatu dan dapat dipelajari dari kehidupannya, seperti apa yang ia baca dan dengan siapa ia mendapat pendidikan. Karena itu tidaklah mungkin sejarawan satu dan yang lainnya memiliki pengalaman yang sama. Dalam melakukan interpretasi, sejarawan penting untuk mempelajari periode sekarang atau periode yang lain dalam sejarah. Sejarawan sebaiknya dapat menggambarkan pemikirannya dengan dilandasi fakta, berbeda dengan sains yang pada prinsipnya difokuskan oleh hukum ilmiah. Akan tetapi jika logika empiris relevan membuat sejarah juga dapat dilihat dari satu hukum,hal tersebut benar-benar sangat kecil kemungkinannya.
Pemilihan plot juga benar-benar akan menentukan apa yang akan menjadi sebab relevan dan apa yang tidak. Sains dapat membuat itu sebagai proses yang dibutuhkan, akan tetapi sejarah akan berpegang teguh pada aturan bahwa keberadaan sebab merupakan kumpulan gagasan dari berbagai plot. Sejarah tidak akan pernah seperti sains,dikarenakan hal itu hanya akan menyisakan jurang hukum yang saling terhubung. Fisika dan sains manusia dapat membuat semua perkembangan menjadi mungkin, sejarah tidak demikian; sejarah merupakan peristiwa yang sudah terjadi. Berbeda dengan sains yang melakukan perhitungan dengan tujuan dapat memperediksi apa yang akan terjadi, sejarah akan memprediksi kemungkinan yang akan terjadi melalui pengalaman dari peristiwa masa lalu. Oleh karena itu, penting sekali untuk melihat secara keseluruhan dan memahami betul bagaimana berbagai plot dapat membentuk suatu peristiwa yang akan dicari faktanya oleh sejarawan.
Sejarawan memang sebaiknya mengetahui benar konsep dari kausalitas sehingga tidak terjerumus ke dalam Retrodiction. Dalam konsepnya, kausalitas memiliki 2 aspek yang penting yaitu material causality dan human causality. Material causality meliputi gagasan yang diterima dari luar seperti di lingkungan ia berada. Terkadang teman terdekat dapat mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang semula sudah ditetapkan oleh seorang sejarawan. Hal ini dikarenakan adanya kedekatan emosional.
Sejarawan sebaiknya dapat menempatkan diri terhadap pengaruh gagasan bahwa kedekatan emosional bukan berarti menyalah gunakan data sejarah yang ditemukan. Human causality merupakan kondisi psikologis dari sejarawan. Hal tersebut biasanya muncul dari kegelisahan sejarawan melihat fenomena-fenomena disekitarnya. Memang agak membingungkan, akan tetapi bila diresapi dengan benar akan terlihat di mana letak perbedaannya. Dari sini menunjukkan bahwa pengalaman sejarawan jauh lebih berpengaruh dalam penulisan sejarah dibandingkan metode secara menyeluruh. Dalam penulisan sejarah justru kondisi psikologis sejarawan pada saat mencari data, sudut pandang mana yang ingin ia tulis bergantung dari pengalaman dan kebiasaan sejarawan, bukan dari metode yang terkesan sebagai hukum baku agar sebuah tulisan sejarah menjadi ilmiah.
Situasi seperti itu ditemukan sejarawan sering memanfaatkan masa lalu untuk kepentingan penguasa. Sejarawan tidak tahu seperti apa ia harus bersikap ketika dibawah rezim penguasa. Hal inilah yang membuat banyak karya sejarah yang justru memberi pandangan yang salah terhadap masa lalu. Ideologi para sejarawan sangat mempengaruhi benar tulisan-tulisannya. Pada kasus ini sejarawan dapat saja membuat propaganda dengan mengatasnamakan agama yang membuat masyarakat secara sadar atau tidak sadar menjadi terprovokasi. Sangat memprihatinkan bahwa masa lalu yang seharusnya menjadi pengalaman pembentuk mental suatu negara malah dijadikan alat untuk politik. Hal itu dilakukan terus-menerus sehingga masyarakat sudah menganggap bahwa suatu peristiwa tertentu adalah sebuah fakta tanpa mempertimbangkan faktor lain. Institusi justru mendukung untuk memberi pandangan ideologis yang salah mengenai sejarah. Institusi memberi motivasi bukan bertujuan agar para pelajarnya memiliki mental kritis, melainkan hanya untuk memikirkan karir saja. Sejarawan seharusnya mampu menempatkan diri di antara masa lalu dan masa kini, tetapi pada kenyataanya sejarawan sering abai dalam melihat secara kausalitas suatu peristiwa sejarah dan hanya menjadi sekedar profesi semata. Artinya, sejarawan membuat karya sejarah hanya untuk kepentingan penguasa. Institusi membuat sejarawan menjadi formal sehingga sejarawan sendiri kehilangan eksistensinya. Itulah mengapa banyak tulisan sejarah yang terkesan kering. Sejarawan dibatasi benar terhadap apa yang dibacanya, sementara apa yang dibaca oleh sejarawan menentukan kualitas dan cara pandang sejarawan terhadap suatu hal.
Kesulitan sebenarnya yang dihadapi sejarawan adalah bagaimana mengingat hubungan antara kesadaran terhadap bentuk kausal dari peristiwa sejarah dan bagaimana sebaiknya sejarawan bertindak. Hal tersebut merupakan bagian yang terpenting. Kesulitan lainnya adalah bagaimana peristiwa dapat diverifikasi, dan apakah itu cukup dengan hanya melihat dari dokumen-dokumen? Tentu saja sejarah tidak sesederhana itu. Kesadaran sejarawan memang bukan merupakan tujuan akhir. Untuk dapat merasakan kesadaran terhadap masa lalu, urutan tindakan sejarawan tidak dapat dikurangi dari banyak data yang ia dapat dan ia susun, meskipun demikian hal tersebut hanya merupakan pertimbangan dan bukan informasi mengenai tujuan sebenarnya. Oleh karena itu, sejarah merupakan sesuatu yang kompleks sehingga sejarawan hanya dapat mendekati sebagian kecil fakta yang terjadi pada masa lalu.
I. Gifar Ramzani Kelas belajar Sulur telah menginjak pertemuan keenam. Di pertemuan tersebut (24/4/2018), Anugrah Rahmatullah mem bah...
Catatan Diskusi Plot dan yang Spesifik dari Peristiwa
I. Gifar Ramzani
Kelas
belajar Sulur telah menginjak pertemuan keenam. Di pertemuan tersebut (24/4/2018),
Anugrah Rahmatullah membahas
hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dimaksud dengan plot dalam sejarah dan hal-hal
yang spesifik dari sejarah. Materi ini masih berasal dari buku Paul Veyne, Writting History: Essay on Epistomology.
Anugrah
menjelaskan bahwa dalam sejarah kita akan menemukan begitu banyak fakta. Dari
fakta tersebut kita kemudian akan menghadapi banyak pertanyaan atau masalah,
seperti apakah sebuah fakta menjadi lebih penting dibanding fakta yang lain; jika suatu fakta memang
lebih penting dari fakta yang lain, lalu bagaimana cara kita menentukannya? Menurut
Veyne dalam bukunya, tentu saja akan ada fakta yang lebih penting dibanding
fakta yang lain. Dan cara menentukannya bisa dilihat dari cara seorang
sejarawan menyampaikannya dalam narasinya, apakah dalam narasi tersebut seorang
sejarawan menjelaskan bahwa fakta tersebut memberi dampak yang besar pada
terjadinya suatu peristiwa sejarah dan bagaimana dampaknya pada fakta-fakta
lain dalam narasi tersebut?
Penjelasan tersebutlah yang disebut dengan plot, yaitu sebuah alur yang
digunakan sejarah untuk menyampaikan tiap fakta, sebab-akibat, atau dampak dari
sebuah peristiwa sejarah.
Menurut
Veyne yang dijelaskan oleh Anugrah, plot dalam sejarah menjadi begitu penting karena
plot tersebutlah yang menyusun rangkaian hingga menjadi sebuah peristiwa
sejarah. Suatu plot bisa mendeterminasi atau tidak sama sekali, dalam artian suatu
plot bisa menentukan narasi utama dari sebuah peristiwa dan ke mana arah peristiwa bermuara. Sebagai contoh misalnya, ketika Napoleon
memberi perintah kepada para prajuritnya. Dalam narasinya, seorang sejarawan
bisa saja mengulang beberapa kali fakta tersebut karena bisa jadi di narasi selanjutnya,
para prajurit tersebut tidak menuruti perintah Napoleon, yang akan menyebabkan
alur peristiwa menjadi berubah.
Dari
plot ini juga kita akan bisa menemukan fakta-fakta yang menarik di tengah
sebuah alur peristiwa yang umum. Misalnya dalam kajian mengenai sejarah
revolusi, secara umum, plot atau alurnya adalah mengenai ketidakpuasan rakyat
terhadap penguasa. Lalu di situ, muncullah apa yang disebut menarik tadi, misalnya
dalam sejarah revolusi Prancis, hadir sosok Napoleon Bonaparte yang memimpin
revolusi Prancis.
Akan tetapi fakta dalam
sebuah plot juga bukan merupakan hal yang terpisah. Dari satu fakta ke fakta
lain tetap merupakan sebuah satu kesatuan. Veyne mencontohkan misalnya dengan
serangan tentara Jerman ke Sedan pada 1940. Dari peristiwa tersebut kita bisa
membaginya ke dalam tiga plot, yaitu strategi, psikologi, dan administrasi. Dari
plot psikologi misalnya, kedatangan para tentara dengan cara jalan yang berbeda
dengan rakyat sipil bisa kita liat bahwa kemungkinan beberapa waktu ke depan
akan terjadi penyerangan. Gambaran keadaan tersebut memengaruhi perasaan rakyat
sipil tersebut dan apa yang mereka lakukan. Hal inilah yang membuat sejarah
menjadi unik karena kita bisa melihat berbagai sudut pandang mengenai suatu
objek.
Berkaitan
dengan sudut pandang, Veyne mengkritik mereka yang seringkali melihat sesuatu
hanya dari satu sudut pandang. Ia menyebutnya dengan istilah “Geometric Figures”. Padahal, sebagai
contoh misalnya dari sebuah peristiwa perang, banyak yang bisa dikaji, bukan
hanya mengenai narasi terjadinya perang tersebut, tapi seperti bagaimana
kondisi masyarakat ketika perang tersebut terjadi, atau bagaimana persediaan
makanan bagi para tentara yang bertugas berperang. Sudut pandang seperti ini
pada akhirnya akan memunculkan dugaan mengenai subjektivitas. Subjektivitas
tidak menjadi masalah ketika ia diinterpretasikan secara seimbang. Caranya
adalah dengan menekankan tidak ada fakta yang mendasar. Seperti telah
dijelaskan di awal tadi, setiap fakta bergantung pada fakta yang lain.
Topik
bahasan selanjutnya adalah mengenai hal yang spesifik dan menarik dari sejarah.
(Peristiwa) apa yang menarik para sejarawan? Karena bisa saja, suatu peristiwa
dianggap menarik bagi satu sejarawan tapi tidak untuk sejarawan lain. Mengenai hal ini, kita dapat mengenal sejarah
populer, yaikni sebuah peristiwa yang menjadi kajian bagi banyak sejarawan. Untuk hal
tersebut, Veyne mengkritik teori Weber, bahwa sejarah hanyalah berisikan
hal-hal yang besar, sehingga menihilkan hal-hal yang bernilai kecil. Sebagai
contoh misalnya, ketika Weber menyampaikan mengenai perubahan konstitusi yang
dilakukan oleh Frederik Willams IV. Menurutnya peristiwa tersebut tidak
ada hubungannya sama sekali dengan pakaian yang digunakan oleh Frederik
Williams IV pada saat itu. Padahal, menurut Veyne, jika ditelisik lebih jauh,
pakaian yang digunakan tersebut bisa memengaruhi citra seorang
Frederik Williams ketika melakukan perubahan konstitusi tersebut yang tentu akan berpengaruh. Bagaimana jika penjahit
pakaian Frederik William bermain-main dengan kerjanya dalam menesain baju
upacara tersebut?
Lalu
apa yang menarik untuk ditulis bagi sejarawan? Setidaknya, Veyne menyampaikan
ada dua pola dasar, yaitu menulis untuk membuat suatu memori untuk terus
diingat dan membuat suatu perbedaan. Tulisan tersebut kemudian menghasilkan
pengetahuan sejarah. Dan apa tujuan atau pentingnya dari pengetahuan sejarah?
Veyne menyampaikan bahwa ada banyak hal yang terjadi di masa lalu entah mengenai
pribadi, keluarga, atau suatu bangsa yang membuat sejarawan atau siapa pun itu untuk terus
mengeksplorasi lebih jauh mengenai pengetahuan tersebut. Selain itu,
pengetahuan sejarah juga berguna bukan hanya untuk si penulis, tapi juga
khalayak umum. Sejarah bisa menjadi sebuah sarana hiburan karena di dalamanya
terdapat keindahan budaya dan sajian-sajian cerita yang menarik.
Pada
sesi diskusi, terdapat pertanyaan dari salah satu peserta, Fadel, yang
menanyakan mengenai fakta. Ia mengulang penjelasan Anugrah yang menyatakan bahwa
fakta bukanlah sesuatu yang mengisolasi, sedangkan pada praktiknya, seorang
sejarawan memilah-milah fakta yang berarti fakta tersebut mengisolasi. Menurut
Anugrah, yang dimaksud dari fakta yang mengisolasi tersebut adalah fakta yang
“mentah”, yaitu fakta yang belum melewati hasil interpretasi dari sejarawan,
yang berarti fakta yang ditemukan tersebut masih berada dalam tahapan kritik.
Di
akhir pertemuan, Rani sebagai moderator akhirnya memberi simpulan bahwa bahasan-bahasan
yang disampaikan oleh Veyne dalam bukunya ini terasa lebih rinci dibanding
bahasan-bahasan yang berasal dari buku E.H Carr yang telah menjadi materi dari
tiga pertemuan awal.
(sulur.id - gfr/kln)
(sulur.id - gfr/kln)
Chairani Rahiimi P ertemuan Kelas Historiografi kelima (19/03/2018) mengulas karya Paul Veyne yang berjudul Writing History: Essay on...
Catatan Diskusi Apa yang Ditulis Sejarah
Chairani Rahiimi
Pertemuan Kelas Historiografi
kelima (19/03/2018) mengulas karya
Paul Veyne yang berjudul Writing History: Essay on Epistemology. Pada
pertemuan ini Ummu Aiman dan Rizky Putra Zuwandono berkesempatan untuk memaparkan hasil pembacaannya kepada para peserta.
Pada awal diskusi, Ummu menjelaskan hal-hal yang ditulis dalam sejarah.
Lalu, ia memaparkan
beberapa hal yang ditulis sejarah, yaitu human events,
dokumen, kebenaran peristiwa, dan mutasi pengetahuan.
Dalam human events, manusia
tidak selalu menjadi “aktor” dalam sejarah. Peristiwa alam seperti letusan gunung berapi dapat
ditulis oleh sejarawan dengan spesifikasi dan perspektif tertentu. Dalam
penulisan, sejarawan bisa memilah mana yang penting untuk ditulis dan mana yang
tidak penting untuk ditulis.
Pengetahuan mengenai peristiwa sejarah bisa didapatkan melalui dokumen.
Ia merupakan salah bahan untuk penulisan sejarah. Akan tetapi, interpretasi
terhadap peristiwa-peristiwa dalam dokumen bisa jadi memiliki pengaruh terhadap informasi
sejarah. Ummu menjelaskan mengenai Waterloo (pertempuran antara Inggris dan Prancis).
Ada yang berpendapat bahwa peristiwa
itu adalah pertempuran, ada pula yang berpendapat sebagai bentuk kemenangan Inggris, dan lain
sebagainya. Selain itu, dalam pencatatan peristiwa tidak semuanya ditulis dalam
satu catatan atau dalam satu periode.
Dalam penulisan, sejarah hanya menuliskan hal-hal yang benar terjadi.
Artinya, fakta-fakta yang digunakan oleh sejarawan merupakan fakta yang benar
terjadi. Hal inilah membuat metode sejarah tidak digunakan untuk mencari
kebenaran. Kritik sejarah digunakan untuk menjawab pertanyaan yang dirumuskan
oleh sejarawan untuk mencari fakta-fakta sejarah. Sejarah hanya mencari
kebenaran, bukan mencari ketepatan seperti sains.
Penjelasan selanjutnya mengenai pengetahuan sejarah terpotong pada pola dokumen yang dimutilasi. Dalam
hal ini, sejarah tidak menjelaskan secara
lengkap mengenai suatu peritiwa tersebut. Penulisan
sejarah pun berdasarkan pada jejak-jejak yang ditemukannya. Sejarah tidak bisa
mengungkapkan suatu hal tanpa ada jejaknya. Kendati demikian, sejarawan tetap
berusaha mengungkapkan peristiwa-peristiwa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang ia ajukan.
Pembahasan pun dilanjutkan oleh Rizky. Dalam pembahasannya, Rizky
mengungkapkan ada 8 fakor yang tidak dianggap logis dalam penyusunan sejarah.
Pertama, ketidaklogisan sejarah. Dalam hal ini dinyatakan bahwa
kedudukan sejarah tidak bisa ditentukan, kecuali satu hal: kenyataan. Kedua, sifat
sejarah yang tidak lengkap, artinya adanya hal-hal detil yang tak muncul pada. Ketiga,
sebuah gagasan tanpa peristiwa. semisal terjadinya pergeseran genre sejarah yang berbagi peran dengan
sosiologi, sehingga penulisannya mencakup wilayah yang besar saja. Keempat, fakta
yang tidak memiliki dimensi mutlak. Maksudnya, fakta-fakta pun dipilih karena
ada kriteria tertentu untuk kepentingannya. Tiap fakta yang digunakan tidak
bersifat ajeg. Kelima, perpanjangan dari sejarah. Peristiwa-peristiwa sejarah
pun tak lagi mengulas dengan tema yang besar. Kini segala aspek kehidupan pun
dapat dilihat secara historis. Keenam, sejarah ialah batas gagasan. Penulisan
sejarah pun akan melibatkan gagasan-gagasan yang dipegangnya, sehingga ada
batas tertentu. Ketujuh, sejarah berpijak pada yang ada di dunia. Maksudnya,
tiap-tiap peristiwa memiliki perubahan dan penalaran tersendiri karena kajian
pada sejarah terdapat pada manusia yang memiliki kekhasan tersendiri. Kedelapan, yang mana fakta sejarah, di sini pertanyaan
sejarah akan membedakan mana peristiwa historis dan mana yang bukan. Peristiwa
historis ini akan memproyeksikan nilai-nilai dan jawaban atas pertanyaan
sejarah.
Pembahasan yang telah dijelaskan oleh Ummu dan Rizky diperjelas oleh
Gani A. Jaelani. Paul Veyne menuliskan buku ini untuk mengkritik model tulisan
Fernand Braudel. Dalam model tulisan Braudel memukul rata orang-orang, sehingga peristiwa yang
dialami bukan menjadi intinya. Di sinilah Veyne mendeskripsikan peristiwa itu seperti apa dan
memfokuskan kembali apa yang dituliskan oleh sejarah.
Adanya kekurangan alamiah sejarah. Dalam penemuan jejak pun bukan
berarti bahwa tidak ada jejak sama dengan tidak punya sejarah. Dalam penulisan
pun ada yang menyingkat penulisan peristiwa satu abad yang lalu menjadi satu
halaman, dan melebarkan penulisan sehari menjadi tiga halaman. Itu semua
bergantung pada pilihan. Sebelumnya, apa yang dituliskan sejarah membedakan
mana yang peristiwa dan yang bukan peristiwa. Dalam kasus ini, Veyne memperluas dimensi
peristiwa-peristiwa sehingga semua peristiwa adalah sejarah.
Ketika sesi tanya-jawab dibuka, muncul beberapa pertanyaan dari para
hadirin. Bryna menanyakan soal dokumen-dokumen tradisional yang lebih ke arah
mitologi. Ia menanyakan bagaimana Paul Veyne menyikapi persoalan ini.
Gani menanggapi pertanyaan dari Bryna. Ia mengatakan
bahwa dokumen-dokumen bukanlah hal yang utama. Jejak-jejak sejarahlah yang
merupakan inti dari penulisan sejarah. Sebuah jejak disebut sebagai dokumen
jika jejak tersebut berada di kertas. Untuk menyikapi adanya dokumen yang lebih
ke arah mitologi, sejarawan Eropa pun menyikapi hal tersebut dengan cara
melakukan kritik. Perlu dipahami bahwa masing-masing jejak bekerja dengan cara
yang berbeda. Terdapat pola tertentu untuk menemukan apa yang dijelaskan oleh
jejak. Di sinilah kemampuan membaca diperlukan agar jejak-jejak itu dapat
digunakan. Hal ini juga diperlukan pula elaborasi dengan jejak-jejak lainnya
dalam penulisan sejarah. Elaborasi pun tak hanya mengenai hal yang besar.
Gifar pun menanyakan soal keunikan sejarah, seperti apa yang dikatakan
oleh Kuntowijoyo bahwa sejarah itu unik. Akan tetapi, ia diragukan oleh
orang-orang ketika ia ingin menulis sejarah dengan tema yang bukan umum. Gani
menjelaskan bahwa Kuntowijoyo tidak merincikan maksud kalimatnya yang
menyatakan bahwa sejarah itu unik. Kajian sejarah itu spesifik, dan hal itu
penting. Permasalahannya, di Indonesia sendiri masih banyak yang menulis
sejarah dengan tema-tema besar. Hal inilah diperlukan argumen kuat dan
sumber-sumber yang meyakinkan untuk mempertahankan apa yang ingin ditulis.
Pertanyaan lain pun diajukan oleh Kelana. Ia menanyakan tanggapan sejarawan
terhadap adanya perdebatan dalam ilmu social-science,
yaitu suatu hal dikatakan sebagai ilmu atau bukan ilmu. Gani pun melakukan
perbandingan antara sejarawan di Indonesia dan di luar Indonesia, khususnya di
Barat.
Mengenai suatu hal itu ilmu atau bukan ilmu tidak ada perdebatan di
Indonesia. Sementara di luar Indonesia, khususnya Barat, perdebatan pun masih
terjadi. Adanya bidang historiografi yang terus menelaah empiris sejarah dan
epistemologi sejarah. Gani menambahkan bagaimana sejarawan Indonesia melakukan penelitian. Sejarawan lebih
dulu mempelajari teori daripada mempelajari data. Hal ini keliru karena jika
mempelajari teorinya terlebih dahulu, data yang akan dicari akan disesuaikan
dengan teori yang digunakan. Seharusnya sejarawan mempelajari data-data
terlebih dahulu, setelah itu baru ditentukan teori apa yang dapat mendekati
data-data tersebut. Kelebihan sejarawan adalah cara membaca dokumen dan
menginterpretasinya.
Mengenai cara kerja sejarah, Rima pun menanyakan bagaimana dengan novel
sejarah. Dalam tanggapannya Gani mengatakan bahwa cara kerja novel dan sejarah itu sama, hanya realitasnya yang
berbeda. Dalam novel sejarah, Gani merujuk pada Tetralogi Pulau Buru karya
Pramoedya Ananta Toer, terdapat tokoh Annelies Mellema dan Nyai Ontorosoh. Mengenai adanya dua
tokoh tersebut di dunia nyata pun tidak bisa dijelaskan. Akan tetapi,
kehidupan-kehidupan yang dijalani oleh Annelies Mellema dan Nyai Ontorosoh
merupakan representasi dari gambaran kehidupan orang Eurasia dan kehidupan
gundik pada masa Hindia Belanda.
Alika Lahitani F akta sejarah bukan suatu hal yang ditemukan begitu saja dan langsung dipercayai kebenarannya. Masalah yang sering mu...
Catatan Diskusi Sejarah, Fakta Sejarah, dan Sejarawan
Alika Lahitani
Fakta sejarah bukan suatu
hal yang ditemukan begitu saja dan langsung
dipercayai kebenarannya. Masalah yang
sering muncul dalam proses pencarian fakta sejarah adalah klaim
yang
menyatakan seorang
sejarawan telah menemukan fakta berdasarkan pada sudut pandang yang
dimilikinya. Fakta sejarah seyogianya perlu dikritik, tidak cukup bergantung pada masalah sudut
pandang
semata. Begitulah
pendapat Fadly Rahman sebagai pemantik diskusi dengan topik “Sejarah, Fakta
Sejarah, dan Sejarawan” pada pertemuan Kelas Historiografi Komunitas Sulur yang
kedua (28/2/17). Topik bahasan pada pertemuan kali ini diambil dari buku
sejarawan Inggris E.H Carr yang berjudul What
is History?
Sejarah
dipelajari untuk menumbuhkan kepekaan dalam diri sebuah bangsa. Kebutuhan terhadap kepekaan itu adalah untuk mencegah terulang kembalinya
kesalahan yang menyebabkan kenestapaan sejarah. Dalam hal ini, fakta sejarah adalah sesuatu yang ditemukan melalui proses heuristik dan melalui proses interaksi dengan
lintas disiplin ilmu, seperti dengan filologi maupun arkeologi. Penulisan sejarah
tidak dapat dilakukan selintas lewat tanpa kesaksamaan.
Proses
pencarian fakta ini oleh Fadly diibaratkan dengan aktivitas mencari ikan di
pasar. Pencarian ini seperti
proses seleksi terhadap ikan mana yang ingin dibeli untuk dibawa pulang, lalu dimasak
lantas disajikan. Mirip kerja
sejarawan yang mencari sumber-sumber di perpustakaan, memilah sumber yang akan
digunakan. Semuanya dikerjakan tidak dengan instan, melainkan melalui proses yang cukup panjang.
Masalah
yang muncul berkenaan dengan sudut pandang yang
dicontohkan
Fadly salah satunya berletak pada
penulisan sejarah bangsa. Buku Sejarah
Nasional yang beredar seolah dijadikan “kitab
suci” oleh para pembacanya untuk merujuk fakta sejarah. Apa yang tertulis di dalamnya itu dianggap sebagai sesuatu yang mutlak kebenarannya
sehingga tidak perlu ada keraguan terhadap
kebenaran
fakta tersebut. Padahal tulisan dari sejarawan yang ditugaskan pemerintah itu bisa jadi tidak objektif dalam penulisan sejarah.
Dalam artian, sejarah digarap untuk
melegitimasi kekuasaan.
Kerja sejarawan sangat muskil merekonstruksi masa
lalu secara presisi. Dengan
demikian, yang menjadi kerja sejarawan adalah
bagaimana mendapatkan sebuah penulisan yang
mendekati peristiwa aslinya.
Kekuatan imajinasi dan penyelidikan menurut Carr merupakan faktor yang memengaruhi
kerja historiografi dalam
menghadapi sumber yang kemudian dikonfirmasi
keakuratannya.
Ketika berbicara mengenai kerja sejarawan dalam
mengahadapi fakta sejarah terdapat poin yang perlu diingat, yakni fakta yang merupakan penemuan dan
penciptaan. Persoalannya terjadi ketika
penciptaan fakta, semisal, pemilihan
tempat tertentu untuk penggalian sumber. Gani kemudian
mengilustrasikannya, mengapa dalam mencari ikan harus memilih Pasar Cileunyi, padahal
terdapat banyak pasar yang menjual ikan; dan kenapa dalam memilih ikan, hanya ikan mas dan
mujair saja yang disebutkan? Pilihan-pilihan seperti
itu jelas merupakan persolan yang perlu didiskusikan oleh para peserta diskusi.
Tanggapan
yang diberikan Gani A. Jaelani kemudian membuat diskusi semakin menarik. Ia mengungkap praktik yang lazim terjadi dalam
penulisan sejarah, yakni ketika sejarawan menjual fakta.
Dari mana
datangnya fakta itu? Menurutnya
akan lebih tepat jika praktik itu diibaratkan
seperti kerja mencari ikan di
samudera—menentukan tempat memancing,
ikan yang dicari, pilihan kail
yang dipakai—semua pilihan
akan berpengaruh terhadap hasil
pancingan. Hal
yang tidak bisa diabaikan adalah, dalam memancing ikan di samudera, keberuntungan dan
kebetulan juga turut berperan.
Fakta yang dihasilkan oleh sejarawan pun dalam hal ini bukanlah sesuatu yang bebas nilai.
Peter
Carey yang melakukan penelitian tentang Diponegoro selama 30 tahun, membuka
fakta unik yang mungkin belum terbayangkan sebelumnya. Siapa yang
menyangka jika Diponegoro yang identik dengan keislamannya suka wine? Hal ini tentu tidak
dimunculkan dalam buku-buku yang kita tahu selama ini, karena fakta ini akan berpengaruh terhadap simbol
yang telah melekat pada Diponegoro. Pada kasus seperti inilah, sejarawan akan
bergulat dengan fakta. Afiliasi institusinya dalam hubungan sosial-politik akan
berpengaruh terhadap penulis dan hasilnya.
Salah satu tanggapan datang memecah kerutan mimik para peserta diskusi jadi tawa, pendapat itu kurang lebih seperti ini, “mencari
fakta seperti mencari jodoh,”
begitulah perumpamaan Budi Gustaman terhadap pencarian fakta sejarah. Dalam proses pencarian
fakta yang sahih, maka tahapan yang dilakukan seperti kritik dan koroborasi
membuatnya menjadi lama.
Permasalahan selanjutnya yang diutarakan oleh Budi adalah ketika sejarah disikapi dengan paradigma sudut pandang, sebagai contoh lagi-lagi disebut Sejarah Nasional bangsa Indonesia yang dibangun lewat sudut pandang politis. Karenanya sejarah Indonesia menjadi sangat Jawa-sentris, padahal ada begitu banyak indikator yang membangun sejarah bangsa. Menurutnya hal ini sejalan dengan ungkapan, “History without people, people without history”.
Permasalahan selanjutnya yang diutarakan oleh Budi adalah ketika sejarah disikapi dengan paradigma sudut pandang, sebagai contoh lagi-lagi disebut Sejarah Nasional bangsa Indonesia yang dibangun lewat sudut pandang politis. Karenanya sejarah Indonesia menjadi sangat Jawa-sentris, padahal ada begitu banyak indikator yang membangun sejarah bangsa. Menurutnya hal ini sejalan dengan ungkapan, “History without people, people without history”.
Dalam proses pencarian fakta seorang sejarawan pun
berhadapan dengan
masalah
sudut pandang, yang
dikhawatirkan adalah apakah kemudian kebenaran itu relatif? Yang artinya, bisa saja semua menjadi
benar bergantung pada sudut pandang
yang digunakan padahal basis
material yang ada harus disepakati sehingga bisa dikatakan itu adalah fakta.
Gani menambahkan jika yang dibahas oleh Carr tidak berkenaan dengan sudut pandang melainkan basis
material, apa
yang ada pada suatu masa dan apa yang tidak ada.
Bermain sudut pandang hanya
mungkin apabila basis materialnya kokoh
sehingga tidak setiap peristiwa masa lalu itu dikatakan
fakta sejarah. Ada
tahapan untuk menggapainya sebagai
fakta sejarah.
Diskusi
mengenai sudut pandang dan fakta sejarah ini menimbulkan pelbagai pertanyaan. Yang pertama
datang dari Randy yang menyoal mengenai arti kata history dan apakah benar sejarah itu ditulis oleh pihak yang
menang. Lalu ia juga menambahkan apabila Indonesia menjadi negara yang sangat
Islam-sentris, apakah mungkin masalah Candi Borobudur yang dianggap
sebagai
peninggalan Sulaeman itu kemudian dibenarkan oleh pihak yang berkuasa? Akan seperti apa penulisan
sejarah di masa depan yang
membahas “masa
kini” apabila menyoal pernyataan “History
as an actually happen, and history as written?”
Respon
yang Fadly berikan berkaitan dengan
peran media yang senang membesar-besarkan sesuatu. Sehingga
hal yang awalnya menjadi candaan pun tidak bisa dianggap begitu lagi. Salah kaprah yang terjadi itu mengangkangi fakta-fakta
yang sudah diteliti sedemikian rapi oleh
ahli dari berbagai disiplin ilmu. Semisal,
faktanya Majapahit adalah kerajaan Hindu. Tetapi, permainan ilmu “cocoklogi”
membuatnya menjadi kerajaan Islam.
Kemampuan
story telling yang hebat dari orang
yang memiliki kemampuan lemah dalam membaca narasi sejarah dapat menyesatkan. Yang
menjadi ironi adalah kelemahan dalam kritik itu tidak hanya terjadi pada
lapisan “bawah”, bahkan yang dikatakan "terpelajar" pun melakukan kesalahan serupa. Hoax
yang ramai beredar pun pada dasarnya dibuat
berdasarkan kesadaran dan kesengajaan.
Tanggung jawab sosial sejarawan adalah mematahkan hoax tersebut. Sejarawan harus bekerja
lebih jeli terkait dengan sumber-sumber yang ada.
Rima menambahkan apabila yang kita punya saat ini hanya cerita Lalu, apakah mungkin adanya silang cerita? Dalam peristiwa ‘65 saja ada sekitar lima cerita dari sudut pandang yang berbeda. Cerita mana yang paling benar kita tidak pernah tahu.
Menjelang
akhir diskusi, Gani
menambahkan pendapatnya mengenai masalah penarasian
sejarah seperti yang disebut di atas, bahwa dalam sejarah ada plot cerita. Hal itu sejalan dengan
bahasan sejarawan Perancis, Paul Veyne, yang menulis tentang struktur narasi
sejarah. Ada
batasan antara sejarah dan sastra. Paul
Ricoeur dalam bukunya Memory, History, and Forgetting menjelaskan bahwa antara sejarawan
dan sastrawan memiliki kesamaan dalam tahapan pencarian data, yang membedakannya adalah pada tahap representasi
data atau historiografi. Fakta yang kemudian harus kita percayai adalah yang
paling banyak mendapat kritik. Akan tetapi, fakta tidak akan bertahan selamanya ketika ditemukan fakta baru yang lebih kuat.
Yang dikatakan Gani merujuk kepada sejarawan Italia, Benedetto Croce, bahwa sejarah
itu selalu kontemporer sehingga selalu berdasarkan kepentingan saat masa sejarah itu ditulis.
(sulur.id - alk/kln)
(sulur.id - alk/kln)
Kelana Wisnu “Mengapa dimulai dengan Herodotus?” adalah pertanyaan pembuka yang dilemparkan Gani Ahmad Jaelani sebagai pemantik diskusi ...
Catatan Diskusi Herodotus Sang Pendusta
Kelana Wisnu
“Mengapa dimulai dengan Herodotus?” adalah pertanyaan pembuka yang dilemparkan Gani Ahmad Jaelani sebagai pemantik diskusi pertama Komunitas Sulur. Pertanyaan itu membuat para peserta diskusi yang berasal dari jurusan sejarah, sastra, dan umum memfokuskan diri untuk mengikuti jalannya diskusi. Gani melanjutkan, bahwa pentingnya membahas Herodotus adalah sebagai pintu masuk untuk melihat perdebatan dalam historiografi, perihal predikat “tukang bohong” yang dialamatkan kepada Herodotus adalah titik awal perdebatan historiografi yang mungkin paling tua dalam sejarah.
Persoalan
itu dimulai dari catatan perjalanan Herodotus yang dijadikan buku berjudul Histories, terdiri dari sembilan jilid,
menceritakan Perang Persia yang terjadi satu generasi sebelum sang penulis
hidup dan catatan faktual tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur.
Apa yang disampaikan oleh Gani adalah upaya untuk menjelaskan kembali secara
verbal materi diskusi yang diunggah di laman Sulur berjudul “Herodotus Bapak Sejarah Tukang Kibul”. Persoalan ini dianggap penting karena selain sebagai
pintu masuk terhadap perdebatan tentang historiografi, posisi Herodotus sebagai
seorang “sejarawan” dapat dipahami sebagai proses dialektis yang terjadi dalam
ruang dan waktu yang cukup panjang.
Kenapa Herodotus tidak dianggap sebagai seorang sejarawan adalah karena pengamatannya
yang tidak bersandarkan pada penglihatan langsung, melainkan lewat
penuturan (oral). Metode yang digunakan oleh Herodotus
dianggap tidak lazim karena memungkinkan terjadinya distorsi informasi yang diterima
oleh penulis. Hal ini pula yang membuat Thucydides, penulis Perang Peloponesia menganggap klaim
Herodotus tidak aman karena ia tidak hidup pada zaman di mana peristiwa yang
ditulis Herodotus terjadi. Gani pun menjelaskan keterkaitan masalah ini dengan etimologi kata history yang berasal dari kata istoria yang kurang lebih berarti
penglihatan, maka tak heran jika pada mulanya ilmu pencatatan ini berbasiskan pada pengamatan yang langsung oleh mata bukan lewat lisan, seperti yang dilakukan juga
oleh ilmu kedokteran.
Beratus
tahun kemudian setelah predikat tukang bohong melekat pada Herodotus, zaman
pencerahan tiba. Para intektual mulai meneliti kembali teks-teks Herodotus.
Seiring semangat zaman yang melihat sejarah lewat dokumen-dokumen tertulis,
karya-karya Herodotus kembali diperbincangkan. Apa yang dilakukan oleh
Herodotus dianggap lumrah. Namanya pun selamat, predikat “bapak tukang bohong”
itu berubah menjadi bapak ilmu sejarah, bahkan disebutkan pula jika Thucydides,
salah satu pengkritik awal Herodotus sekaligus sebagai tokoh penting dalam perdebatan
historiografi, hidup di masa depan, mungkin ia akan menganggap lumrah apa yang
dilakukan oleh Herodotus. Seperti yang disebut sebelumnya, Herodotus tidak
ujug-ujug menjadi bapak ilmu sejarah.
Diskusi ini
pun memancing pertanyaan-pertanyaan yang cukup menarik, salah satu pertanyaan
itu datang dari Fadly Rahman. Ia mengatakan bahwa posisi Herodotus sebagai
“bapak sejarah” adalah sesuatu yang “taken
for granted”, diterima apa adanya tanpa proses kritik. Hal ini menurutnya
merupakan sebuah bentuk mistifikasi sebuah ilmu yang sering dilakukan tanpa
disadari oleh siapa pun. Ia meneruskan tanggapannya itu dengan bertanya, apakah selama ini pernah
dijumpai perdebatan Herodotus sebagai bapak sejarah selain yang disebut oleh Gani
dalam pengantarnya.
Tanggapan sekaligus pertanyan yang dilontarkan Fadly memicu sebuah diskusi yang menarik, yang mengarahkan diskusi
untuk menyinggung lebih lanjut perihal tataran sejarah sebagai fakta dalam
konteks yang lebih jauh. Memitoskan sesuatu dewasa ini oleh Gani dianggap
berbahaya karena tidak sepenuhnya sejarah yang ditulis oleh para sejarawan di
masa lalu atau di masa kini benar-benar objektif atau bertopang pada fakta yang
akurat. Akibat pertanyaan tersebut diskusi menjadi lebih mengarah pada perbincangan mengenai apa
yang dianggap sebagai fakta dan mitos dalam sejarah. Yakni, fakta adalah
sebuah rekonstruksi.
Lebih jauh,
contoh yang diberikan adalah bahaya klaim-klaim dalam penulisan sejarah tadi.
Memistifikasi sejarah sebagai fakta adalah hal yang kurang arif, karena sang penulis atau pembuat klaim tidak terlepas dari afiliasinya dalam konteks sosial-politik. Praktik
semacam inilah yang terkadang membuat manipulasi sejarah dilembagakan. Mungkin
di sinilah posisi Herodotus menjadi penting, seperti apa yang ia lakukan, menempatkan posisi orang
non-Yunani dalam tulisannya yang membuat sejarah itu ditulis untuk merekam pandangan
dari dua belah pihak. Meskipun pilihannnya ini membuatnya dijuluki pecinta kaum
barbar.
Obrolan diskusi yang semakin mengarah pada perdebatan antara fakta dan mitos dalam sejarah itu membuat
pertanyaan-pertanyaan lainnya timbul. Salah satunya datang dari Budi Gustaman
yang menyoal Homerus yang juga dianggap sebagai bapak sejarah dalam buku Greek Tragedy and Historian yang
disunting oleh Christoper Pelling. Ia pun menanyakan kesahihan dokumen sejarah
tradisional seperti babad dalam penulisan sejarah. Dalam dokumen sejarah
tradisional yang kita miliki, semisal Babad
Tanah Jawi, tidak lepas dari mitos. Lalu, bagaimana memperlakukan dokumen
sejarah tradisional itu sebagai rujukan penulisan sejarah? Menurutnya pula
berdasarkan pengalamannya belajar ilmu sejarah, dewasa ini menulis sejarah sudah
tidak lagi berurusan dengan mana yang mitos dan mana yang fakta.
Pemaparan
dan pertanyaan itu memancing untuk mendiskusikan mengenai fakta dan mitos lebih
lanjut—tidak
heran jika pertanyaan yang muncul setidaknya menyoal mistifikasi karena tema pokok diskusi kali ini berkaitan dengan mitos yang berkaitan dengan bapak ilmu sejarah. Gani menjawab
bahwa historiografi tradisional bisa dilihat sebagai fakta dari representasi
bahasa simboliknya. Pernyataan ini berbuah sebuah respon beberapa peserta diskusi yang menanggapi secara spontan perihal cara berhadapan dengan teks, dalam hal ini karya sastra. Apakah karya sastra dapat
dilihat sebagai sumber sejarah atau sebuah penulisan sejarah dapat dianggap
fiksi? Mungkin pertanyaan ini akan didiskusikan dalam pertemuan
kelas Sulur selanjutnya.
Ketika
diskusi hampir berakhir, Fadly menambahkan bahwa perwacanaan mengenai
historiografi Indonesia penting untuk didiskusikan karena wilayah itu sangat
minim hadir dalam perbincangan. Ia juga menjadi penasaran tentang apa saja yang ditulis oleh Herodotus dalam sembilan jilid buku mengenai perang Persia dan negeri-negeri Timur itu, dengan berandai-andai ia juga berpendapat bahwa mungkin saja dalam buku itu banyak terberai catatan perihal kehidupan sehari-hari, semisal cara memasak dsb. Pendapat Fadly yang paling terakhir mengingatkan kita pada buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, buku tersebut adalah buku sejarah yang menggunakan metode lisan, di dalamnya pula terdapat cerita sehari-hari seperti cara memasak, bercocok tanam, dst. Diskusi Sulur
pada hari Senin (19/02/17) berakhir, di luar Perpustakaan Batu Api hujan pun menanti, Herodotus tersenyum menari.
(sulur.id - kln)
(sulur.id - kln)
Langganan:
Komentar (Atom)















Ikuti Kami
"Hanya sejarawan yang memiliki bakat untuk mengobarkan pijar-pijar harapan di masa lalu, sebab dia betul-betul yakin bahwa bahkan orang mati pun tidak akan bisa diselamatkan dari musuh jika musuh itu menang." Walter Benjamin